RELASI HUKUM DENGAN MORAL

RELASI HUKUM DENGAN MORAL

 

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Politik Hukum
Dosen Pengampu : Rima Vien PH, S.H, M.H

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Pipit Elya Sari

K6410048

 

 

PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2013

 

Hubungan Hukum Dengan Moral

Manusia berkehendak untuk berlaku baik terhadap sesama manusia yang bermuara pada suatu pergaulan antara pribadi yang berdasarkan prinsip rasional dan moral. Oleh karena itu, kehendak yang sama mendorong orang-orang untuk membuat suatu aturan hidup bersama yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral tersebut. Hal ini dilaksanakan dengan membentuk suatu sistem norma-norma yang harus ditaati orang-orang yang termasuk suatu masyarakat tertentu. Dan sistem tersebut tidak mengikat semua orang, akan tetapi hanya mengikat suatu masyarakat tertentu yang ada disuatu daerah dengan kehendak yang sama.

Kehendak manusia untuk mengatur pergaulan secara bersama-sama melahirkan tiga macam norma sebagai berikut :

  1. Norma moral yang mewajibkan tiap-tiap orang secara batiniah,
  2. Norma-norma masyarakat atau norma sopan santun yang mengatur pergaulan secara umum,
  3. Norma-norma yang mengatur hidup bersama secara umum dengan menentukan hak dan kewajiban. Inilah yang disebut sebagai norma hukum moral.

Selain itu, perlu juga diungkapkan bahwa mengkaji hukum dan moral, maka ditemukan dalam literatur hukum khususnya didalam legal system Japanis, yaitu hukum diartikan atau diidentikkan dengan moral, yaitu law is morality. Sebagai contoh yang menganut paham ini adalah Jepang. Di Jepang, bila seorang pejabat berbuat a moral maka ia langsung mengundurkan diri sebagai pejabat. Sebab, ia tidak pantas menjadi panutan dalam masyarakat. Oleh karena itu, putusan pengadilan mengenai salah tidaknya seseorang bukan putusan akhir, melainkan dilihat dari aspek moral. Yaitu pantas atau tidaknya seseorang menjadi panutan. Seandainya saja, pejabat di negara kita seperti pejabat di Jepang saya kira bukan hal yang tidak mungkin kalau negara kita ini akan menjadi Kandang Macan Asia.

Kata moral selalu mengacu pada baik atau buruknya manusia sebagai manusia. Jadi bukan mengenai baik buruknya begitu saja. Sebagai contoh Pak Ahsan adalah seorang dosen yang buruk, buruk karena ia selalu hanya membacakan teks bukunya saja sehingga para mahasiswa mengantuk. Akan tetapi, ia sekaligus seorang manusia yang baik. Artinya, Pak Ahsan selalu membantu para mahasiswa bahwa ia jujur dan dapat dipercaya bahwa ia tidak akan mengatakan yang tidak benar dan selalu bersikap adil. Penilaian pertama tentang pak ahsan sebagai dosen bukan penilaian moral, sedangkan penilaian yang kedua bersifat moral. Begitu pula sebaliknya.

Antara hukum dan moral terdapat hubungan yang erat sekali. Ada pepatah Roma yang mengatakan “quid leges sine moribus?” (apa artinya undang-undang jika tidak disertai moralitas?). Dengan demikian hukum tidak akan berarti tanpa disertai moralitas. Oleh karena itu kualitas hukum harus selalu diukur dengan norma moral, perundang-undangan yang immoral harus diganti. Ada lima pola hubungan moral-hukum yang bisa dibagi dalam dua kerangka pemahaman.

Kerangka pemahaman pertama, moral sebagai bentuk yang mempengaruhi hukum. Moral tidak lain hanya bentuk yang memungkinkan hukum mempunyai ciri universalitas. Sebagai bentuk, moral belum mempunyai isi. Sebagai gagasan masih menantikan pewujudan. Pewujudan itu adalah rumusan hukum positif. Hubungan moral sebagai jiwa hukum ini dibagi dalam tiga pola.

  • Pertama, moral dimengerti sebagai yang menghubungkan hukum dengan ideal kehidupan sosial-politik, keadilan sosial. Upaya-upaya nyata dilakukan untuk mencapai ideal itu, tetapi sesempurna apa pun usaha itu tidak akan pernah bisa menyamai ideal itu. Bagi penganut paham hukum kodrat, ini merupakan pola hubungan hukum kodrat dan hukum positif.
  • Kedua, hanya perjalanan sejarah nyata, antara lain hukum positif yang berlaku, sanggup memberi bentuk moral dan eksistensi kolektif. Pewujudan cita-cita moral tidak hanya dipahami sebagai cakrawala yang tidak mempunyai eksistensi (kecuali dalam bentuk gagasan). Dalam pola kedua ini, pewujudan moral tidak hanya melalui tindakan moral, tetapi dalam perjuangan di tengah-tengah pertarungan kekuatan dan kekuasaan, tempat di mana dibangun realitas moral (partai politik, birokrasi, hukum, institusi-institusi, pembagian sumber-sumber ekonomi).
  • Pola ketiga adalah voluntarisme moral. Di satu pihak, hanya dalam kehidupan nyata moral bisa memiliki makna, di lain pihak, moral dimengerti juga sebagai sesuatu yang transenden yang tidak dapat direduksi ke dalam hukum dan politik. Satu-satunya cara untuk menjamin kesinambungan antara moral dan hukum atau kehidupan konkret adalah menerapkan pemahaman kehendak sebagai kehendak murni. Implikasinya akan ditatapkan pada dua pilihan yang berbeda: Di satu pihak, pilihan reformasi yang terus-menerus. Pilihan ini merupakan keprihatinan agar moral bisa diterapkan dalam kehidupan nyata, tetapi sekaligus sangsi akan keberhasilannya. Maka yang bisa dilakukan adalah melakukan reformasi terus-menerus. Di lain pihak, pilihan berupa revolusi puritan. Dalam revolusi puritan, misalnya Taliban di Afganistan, ada kehendak moral yang yakin bahwa penerapan tuntutan moral itu bisa dilakukan dengan memaksakannya kepada semua anggota masyarakat. Kecenderungannya ialah menggunakan metode otoriter.

Kerangka pemahaman kedua menempatkan moral sebagai sesuatu yang di luar politik dan tidak dapat direduksi menjadi politik. Moral dilihat sebagai suatu bentuk kekuatan yang tidak dapat dihubungkan langsung dengan sejarah atau politik kecuali dengan melihat perbedaannya. Dalam kelompok ini ada dua pola hubungan antara moral dan hukum.

  • Dalam pola keempat, moral tampak sebagai di luar politik. Dimensi moral menjadi semacam penilaian yang diungkapkan dari luar, sebagai ungkapan dari suatu kewibawaan tertentu. Tetapi, kewibawaan ini bukan merupakan kekuatan yang efektif, karena tidak memiliki organ atau jalur langsung untuk menentukan hukum. Pola hubungan ini mirip dengan posisi kenabian. Nabi dimengerti sebagai orang yang mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang sedang berlangsung, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena ada di luar permainan politik. Tetapi, nabi memiliki kewibawaan tertentu. Dalam perspektif ini, hubungan antara moral dan hukum atau politik biasanya bersifat konfliktual. Dalam rezim ini ada pemisahan antara masalah agama dan masalah politik.
  • Dalam pola kelima, politik dikaitkan dengan campur tangan suatu kekuatan dalam sejarah. Kekuatan ini adalah tindakan kolektif yang berhasil melandaskan diri pada mesin institusional. Moral dianggap sebagai salah satu dimensi sejarah, sebagai etika konkret bukan hanya bentuk dari tindakan. Dengan demikian moral berbagi lahan dengan politik. Di satu pihak, moral hanya bisa dipahami melalui praktik politik. Melalui politik itu moral menjadi efektif: melalui hukum, lembaga-lembaga negara, upaya-upaya dalam masalah kesejahteraan umum. Tetapi, moral tetap tidak bisa direduksi ke dalam politik. Di lain pihak, politik mengakali moral. Sampai pada titik tertentu, politik (dalam arti ambil bagian dalam permainan kekuatan) hanya mempermainkan moral karena politik hanya menggunakan moral untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat.

Jadi dapat disimpulkan bahwa memang ada hubungan antara hukum dengan moral. Dan hubungan yang ada adalah sangat erat. Karena pelaksanaan moral mempengaruhi hukum dan sebaliknya pelaksanaan hukum juga mempengaruhi moral. Meskipun pada dasarnya moral tidak bisa direduksi ke dalam politik, dimana hukum dan politik tidak bisa dipisahkan juga.

 

 

 

 

Sumber :

Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, M.A. 2006. Filsafat Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.

http://www.scribd.com/doc/46875413/Antara-Hukum-Dan-Moral-Terdapat-Hubungan-Yang-Erat-Sekali

http://rajawaligarudapancasila.blogspot.com/2011/03/pola-hubungan-hukum-dengan-moral.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s